Menikah Usia Muda, Baik Atau Tidak Baik Sih?

Menikah usia muda, siapa takut?

Asal datang dari hati paling dalam, dari renungan dan perasaan yang tulus. Bukan paksaan. Bukan terjebak semata hanya nafsu atau keinginan yang menggebu-gebu.

Asal bukan didorong oleh keinginan bangga-banggaan semata. Bukan juga karena faktor duniawi (harta, tahta, aji mumpung, misalnya).

Jadi intinya, tata niatnya.

Lho, kok sudah langsung kesimpulan. Memang nikah muda benar-benar baik ya? Atau barangkali memang lebih baik menikah di usia muda dari pada menunda-nunda?

Eitss.. tidak begitu juga. Untuk bisa mengukur apakah menikah usia muda lebih baik (atau juga lebih buruk), tentu harus ada pembahasan. Dalam pandangan Islam disebut dengan muhassabah. Melakukan penakaran, menghitung dan menimbang dengan perangkat hukum dan juga pandangan yang logis, objektif, dan memberikan dampak positif (manfaat) lebih banyak.

Sosok Anak Muda: Emosi Labil, Penuh Gejolak, Ego Tinggi

Itu sudah streotif tentang anak muda. Masih berani menikah di usia muda?

Padahal dalam bahtera pernikahan selalau ada cobaan, masalah kehidupan, dan segala tantangan yang tidak ringan. Lebih-lebih saat masalah tersebut dihadapkan pada lingkungan keluarga orang tua atau mertua yang tidak kondusif. Hm.. masalah kecil bisa menjadi besar karena ikut campur pihak lain (termasuk orang tua / mertua).

Bisa jadi orang tua ikut campur karena melihat potret anak atau menantu yang masih muda, masih butuh bimbingan. Akan tetapi pada pihak lain anak muda juga cenderung memiliki temperamen yang labil, mudah marah, ditambah dengan keinginan atau ego yang masih tinggi.

Butuh kesabaran dan pemahaman yang cukup dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Apalagi akan ada perubahan peran mendasar, dimana ada tanggungjawab yang harus diemban oleh masing-masing pasangan. Harus pandai menempatkan diri, mejaga kebebasan bereksplorasi ataupun pengembangan diri dengan batasan yang ada pada status pernikahan. Sebab ada peran utama menjaga marwah pernikahan, menjaga perasaan istri atau suami.

Pada aspek ini banyak juga anak muda yang tidak lolos seleksi. Ujung-ujungnya mulai merasa tidak ada lagi sesuaian. Merasa hidupnya serba terbatas dan terkekang. Muncul pertengkaran-pertengkaran kecil yang tidak penting. Belum lagi jika dihadapkan pada dugaan-dugaan atau prasangka yang tidak benar, cemburu, atau juga ego masing-masing yang tidak terkendali, tidak ada yang mengalah.

Tentu tidak mudah mengendalikan situasi seperti ini.

Baca Juga  Menyuguhkan Seserahan Pernikahan yang Romantis, Cantik Sedap Dipandang

So, Mana yang Benar. Kapan Baiknya Menikah?

Memang sih, banyak yang menganggap menikah di usia muda adalah sebuah kecerobohan. Secara umum perjalanan seseorang secara berurutan adalah sebagai berikut: masa kanak-kanak, masa sekolah, membangun karir, mengumpulkan uanag, lalu menikah.

Pernikahan berlangsung dengan kekasih yang didapat dari teman sekolah, teman kuliah, atau teman kerja. Bisa dari teman sepergaulan, kelompok, atau yang lainnya.

Tetapi banyak juga anak muda yang sudah matang, percaya diri, bersikap positif dan berhasil melalui segala tantangan dengan baik (meski tidak selalu mulus). Pasangan suami istri yang menikah diantara usia 18-23 tahun mendapatkan kematangan, kedewasaan, kepuasan dan kebahagiaan karena kesungguhannya dalam menjaga pernikahan.

Berikut ini kami sampaikan beberapa tips, tantangan dan manfaat menikah muda berdasarkan pengalaman dari banyak pasangan suami istri muda.

Manfaat Menikah Muda

  1. Dapat menikmati petualangan hidup bersama pasangan Anda. Ya, menikah usia muda menjadikan suasana romantis Anda jauh lebih tinggi dibanding mereka yang masih berkelana tanpa pasangan di usia yang sama.
  2. Anda dapat melakukan traveling tanpa rasa was-was melakukan tindakan yang melanggar norma sosial dan norma agama. Semua batasan yang haram berubah menjadi halal. Tinggal Anda berdua yang mengukurnya. Belanja bersama, makan bersama, dan menikmati suasana gairah muda secara bersama. Makanya banyak yang bilang menikah muda jauh lebih romantis dan menggairahkan.
  3. Anak muda masih mempunyai ruang belajar yang jauh lebih luas. Hal ini membuat masing-masing pasangan bisa saling menerima masukan, saling memahami kekurangan, lalu memperbaikinya secara bersama-sama.
  4. Lebih dini melatih diri dan kelapangan. Manfaat ini membuat pasangan muda lebih cepat dewasa daripada usia kebanyakan. Khususnya dalam kebijaksanaan, belajar mencari jalan tengah, melakukan kompromi, mencari solusi terbaik.
  5. Pasangan muda lebih aman dari potensi jatuh miskin. Sejak dini mereka sudah mulai saling membantu mengatur dan mengelola keuangan lebih baik.
  6. Belajar menjaga kesehatan bersama. Hidup jadi lebih sehat. Keberadaan pasangan menjadi kontrol atas perilaku, khususnya pada tertib makan, mandi, dan menjaga kesehatan lainnya. Lebih-lebih jika pasangan muda juga sudah mulai memikirkan untuk mendapatkan buah hati. Maka sudah pasti kesehatan lebih terjaga.
  7. Sudah mampu membuat prioritas hidup pada seseorang. Peran dan sosok mana yang penting untuk menjadi prioritas ditengah berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup.
  8. Dapat merayakan banyak hal bersama pasangan. Anak muda lain masih sendirian.
  9. Dapat melakukan aktifitas pendewasaan sosial secara bersama. Dengan status menikah peran sosial masyarakat juga lebih baik, lebih mendapatkan tempat, hingga proses pendewasaan dan peran sosial lebih cepat terbentuk.
  10. Ruang untuk belajar, mempraktekkan dan memahami tentang kontrol diri, mengurangi sikap egois, menjadi pribadi yang lebih ulet, tekun, sabar, konsisten dan fokus.
  11. Belajar bersama lebih baik dari belajar sendirian. Meningkatkan kualitas kecerdasan pasangan. Baik itu belajar yang terkait dengan karir, pengetahuan umum, kehidupan, dan lain sebagainya.
  12. Masa muda masih full energik. Ada banyak hal yang dapat diraih bersama. Aktifitas dapat dilakukan jauh lebih banyak untuk menjangkau kualitas hasil yang lebih unggul. Sama-sama masih energik, sehingga menikah muda sangat cocok untuk mereka yang menyukai petualangan menjadi entrepreneur, pemerhati sosial, pecinta lingkungan, dan lain sebagainya.
  13. Membuat rencana masa depan lebih dini, sejak menikah. Ini memungkinkan rentang waktu yang lebih luas dan fokus sejak dini. Masa depan lebih dini disusun, dengan kondisi tubuh yang masih muda, fresh, energik dan masih terbuka dengan upgrade teknologi. Semua menjadi potensi rancangan masa depan pasangan muda jadi lebih unggul (banyak terobosan dalam dunia ini diinisisasi oleh para anak muda lho..)
  14. Jangan hentikan cita-cita, keinginan, dan ambisi. Belajarlah bersama pasangan untuk saling mendukung. Ada manfaat yang lebih besar saat cita-cita Anda mendapatkan support dari orang yang Anda cintai. Ada teman untuk berbagi cerita dan sharing. Ada ruang untuk menjaga semangat, menurunkan tensi dan mengatur irama menggapai cita-cita.
  15. Fokus. Ya, Anda menjadi lebih fokus. Apalagi dengan memutuskan menikah muda selalu ada pro dan kontra. Pendapat itu tidak akan mengganggu Anda, dengan catatan Anda tetap fokus pada kehidupan Anda bersama pasangan, mengambil hikmah positif dan membuang yang negatif.
  16. Mencari dukungan dari orang terpercaya, orang yang bijaksana. Masa muda identik dengan sikap yang terbuka, suka menerima nasihat dan pendapat orang lain. Masa muda juga masih sangat memungkinkan untuk mendapatkan guru-guru terbaik, dalam hal apapun. Para guru dan orang yang bijaksana tersebut akan sangat membantu pasangan muda lebih sukses melampui yang lain.
Baca Juga  Tips Persiapan Singkat Empat Bulan Menuju Pernikahan

Silakan ditambahkan sendiri jika Anda masih mempunyai pendapat tentang manfaat menikah muda.

Reply